Bila Senja Tak Berani Menghalau Malam (Oleh: Luhur Pambudi)

Bagikan

Saya takut yang kau sebut indah, adalah ketidakmampuanku melihat itu. Tapi aku tetap berusaha meyakinkan diriku bahwa keindahan itu tetap sebagai kebenaran, tentunya objektif. Aku berusaha membaca buku ini pelan-pelan, kupastikan tak ada sebuah kata, kata sambung, tambahan kata yang terlewat, karena aku ragu, ketidakpahamku tentang berlembar-lembar halaman buku yang telah ku baca, jangan-jangan karena ada satu dua kata yang terlewat, terlepas, lalu memangkas pesan si penulis.

Di sudut ruang cafe metropolis, sengaja aku duduk di sebuah bangku membelakangi jalan lalu lalang para pembeli cafe, karena di situ tempat favorit aku duduk, ya karena, biar konsentrasi membaca ini tak buyar, sedikit pula ada perasaan rikuh yang menyesakkan dada. Rikuh itu karena aku takut dianggap sok, naif, terlalu lebay, dan kebanyakan gaya, karena aktifitas membaca buku semacam yang ku lakukan ini, sepertinya tak pantas dilakukan di sebuah ruang publik yang biasa digunakan bercakap-cakap santai dengan pasangan, dengan kerabat, selingkuhan, dengan lawan politik, dengan orang tua, atau sanak famili, bercakap-cakap dengan lebih dari 3 orang, yang jelas bercakap-cakap yang tak membutuhkan tenaga berlebih untuk sekedar cukup membuat berkeringat dingin memahami tulisan isi buku.

Ah. Tuh, kan mulai lagi. Aku berfikir buruk terhadap orang lain, berfikir buruk kepada orang lain disaat yang tak beralasan aku memfitnah mereka melalui pikiran. Kenapa hal ini begitu sering ketika aku sedang melakukan aktifitas yang mungkin tak lazim di sebuah cafe, membaca buku, kemudian tak berapa lama pikiran busuk ini menghujam setiap orang-orang yang berkelebatan dibelakang meja tempat ku menaruh kedua siku tanganku yang memegang buku. Menghujam dengan selarik pikiran keji, bahwa mereka yang tertawa menyeringai sedikit tergelak dengan jeritan tak lebih baik dari apa yang tengah saya lakukan, yakni membaca buku. Ah sial, pikiran itu muncul lagi, dan ku sadari pikiran itu selalu muncul memfitnah banyak orang setiap 8 menit aku bertahan menahan konsentrasi dan lirikkan mata tepat dimana huruf-huruf, kosakata dan kalimat-kalimat berjejer rapi dari kiri ke kanan. Setelah 8 menit yang keberapa aku lupa, kini pukul 14.25 WIB sudah 5 jam lebih aku duduk, diam, dengan manis, sendirian, terhuyung membaca buku dengan tenang.

Lelah, memang sudah sedari 1 jam pertama aku rasakan, tapi apa daya, ketika mencoba berhenti dengan melipat pojokan kertas lembar terakhir dimana aku memungkasi sebuah halaman, sekelebat pikiran itu meneracas tak sopan, “kalaupun toh kamu berhenti membaca, lalu kamu mau ngapain pesan satu gelas besar susu soda rasa sirup kelapa warna merah dan membawa buku-buku terbitan Jalasutra dan Mizan.”

Ah pikiran itu, membuatku merasa malu, benar-benar malu, memang benar apa yang hendak saya lakukan ketika berhenti membaca, maka akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran tak jelas merasuk kepala, pikiran tentang jodoh, pikiran tentang tempat kerja, pikiran tentang pertemanan, pikiran tentang hidup yang akhirnya perlahanku sadari sebagai tekanan. Ah, terlebih lagi sekelumit percakapan dari orang-orang yang bercakap dibelakangku ini, bukan teman atau sanak famili, aku tak mengenal mereka. Tak sekali bahkan sering, aku harus mendengar informasi-informasi gelap, yang datangnya dari suara-suara lirih dibalik punggungku. Pernah, ku coba acuh suara itu, dengan tetap bersikukuh menahan kantuk dan kejang dipupil mata akibat terlalu lama membaca,  tapi apa mau dikata, telinga ini bak jala besar yang rigit-rigit celahnya, mencaplok segala bentuk informasi ucapan, celetukkan dari mulut orang-orang dibalik punggungku.

Hasrat untuk tetap bersikukuh dengan tidak mau mendengar informasi, masalah dan keluhan orang lain, ternyata hanya sebuah hasrat belaka, hasrat yang akhirnya jebol pula, setelah, aku sepakat 5 jam aku merasa lelah membaca lembaran buku ini, dengan tetap membiarkannya terbuka dihalaman terakhir aku baca, sengaja tidak kulipat ujungnya, dan kusiapkan telinga lebar-lebar secara sadar untuk menangkap semua informasi, kisah, cerita, gurauan, candaan dan lain sebagainya. Biar tak curiga aku tetap menundukkan kepala tetap dihadapan tulisan-tulisan itu menganga, orang lain ku harap tetap menganggapku sedang membaca dan tak menghiraukan urusan mereka yang terucap dari mulut yang tak sengaja akhirnya terdengar juga oleh telingaku, yang ku sadari begitu peka.

“Apa, Ji? Mau bicara apa lagi kamu, mau mendebat lagi, wong sudah jelas di syariatnya tertulis, bahwa bersuci itu ya harus sesuai dengan apa yang ditulis Al-Quran dan Hadist, gak pake mikir juga bisa.” Celetuk seorang bersuara ringan khas suara seorang pria dibalik punggungku, suaranya terdengar ia berada diposisi barat dari punggungku, sepertinya membahas tentang Agama Islam. Kira-kira dia bicara dengan siapa, dan beberapa orang.

“Iya tapi kan kadang-kadang.” Seorang lain bernada beda, dengan intonasi cukup pendek, suaranya terdengar tepat dari arah yang sama dari pria pertama yang kudengar suaranya bercerita tentang syariat Al-Quran dan Islam.

Tak butuh orang kedua berkata, entah untuk menanggapi atau sekedar mengutarakan pertanyaan baru. “Kadang-kadang apa? Orang ada juga yang sembarangan, pokoknya batin bicara iya, pasti Tuhan mengiyakan, yo gak isok, Ji? Syariat itu operasionalisasi kita untuk beragama, bagaimana sih awakmu iku,” jelas kedua suara itu muncul dari arah yang sama, barat, sudah dipastikan 2 orang pria dengan nada suara berbeda itu berada disatu meja, bercakap-cakap tentang keyakinan mereka yang setiap hari mereka jalani.

“Kita itu ngikut syariat dari Al-Quran, Ji? Karena itu pedoman hidup kita, cara operasionalisasinya ya meniru kanjeng nabi, dari mana kita bisa tahu, ya baca hadist, cukup, gak usah nambah-nambah lagi. Tafsir itu kalau kamu kebanyakan jadinya ya gak jalan.” Percakapan yang semula kusadari hanya 2 orang pria dewasa itu, akhirnya tiba pada situasi dimana prasangkaku keliru, bukan hanya 2 orang pria, melainkan 3 orang.

“Bisa, bisa, bisa dibilang begitu juga bisa, gak salah kok. Gak ada yang keliru.” Suara orang ketiga, laki-laki usia tak jauh beda mungkin, suaranya terbata-bata cepat, intonasi cenderung fluktuatif.

Terdengar orang kedua yang tadi kuketahui ucapannya dipotong mendadak oleh orang pertama. “Aku iku yo bingung bro, nah itu tuh, tapi ya bagaimana lagi, kalau niat saja gak bener, syariat kan ya percuma saja, katanya youtube-youtube gitu sih.”

“Yang, aku kemarin yang sama kamu itu, udah 2 bulan lebih, belum juga datang loh, aku bingung, mau periksa, tapi ya gimana ya bingung juga.” Suara bernada lain, bukan dari mulut salah satu dari 3 pria dewasa di meja sebelah barat punggungku tadi. Mungkin perempuan, tak terlalu centil juga sih, cuma suaranya begitu halus, nadanya agak manja, dan sedang bercakap dengan pacarnya yang duduk di selatan dari belakang punggungku. Suaranya cukup menghunus telingaku, dan sepertinya cukup membuyarkan konsentrasiku menyimak percakapan tentang Agama Islam dari 3 orang disebrang tadi. Ah sayang padahal begitu seru loh.

Tapi. “Takutnya aku lagi ngisi, gimana? Anaknya mau kamu kasih nama siapa kalau laki-laki hayo?” Kata perempuan itu agak lirih tapi tetap terdengar jelas isi percakapannya. Masih tetap belum terdengar siapa pria yang sedang ia ajak bicara. Apakah pacarnya atau sudah menjadi suaminya. Agak tabu dan sudah dipastikan saru, sih? Kalau masih pacaran sudah ada percakapan bertema begituan. Aduh dipastikan  kawin lari, sepertinya ini, tak lama lagi. Tapi ya ngapain kawin lari. Oh iya mungkin masih sekolah barang kali takut, semerawut segala sesuatunya, tentang ibuknya, bapaknya, sanak-saudaranya, tetangga samping rumahnya. Maklum apalagi perempuan. Tapi masih penasaran juga siapa laki-laki yang sedang ia ajak bicara, aku yakin pasti itu laki-laki, tidak mungkin tidak.

Semilir angin mengejawantah, aktifitas mengupingku sudah terlampau lama 2 jam kira-kira. Hidup ini begitu rumit. Sepertinya kucoba dengarkan mereka yang kuanggap mungkin lebih rumit hidupnya daripada aku. Yang cuma biasanya ngopi, mesen susu soda sirup kelapa merah, dan membaca buku-buku yang macam-macam temanya, tapi tak pernah habis satu buahpun tandas.

Nikmatnya cinta tak seperti yang kubayangkan ternyata. Terkadang nafsu turut meracuni kepala yang menghantarkan tangan menggerayang tak karuan dari pipi, mulut (lalu ku kecup), leher (lalu ku jilat), sampai ketempat tujuan pertama, yakni payudara, kalau memang cukup sesak dipegangnya mungkin cukup lama pula berlabuhnya kedua tangan, bahkan mulut yang tadi sudah dieksploitisir dengan mengecup kening dan mulut merahnya, bakal ikut-ikutan menggerayangi licin hingga berliur basin. Ah, halaman buku ini sepertinya harus kubalik cepat-cepat, biar orang yang tak sengaja melihat tak mencurigaiku sedang menguping diam-diam. Srek-srek.  Dua halaman cukuplah? Untuk tak membuat orang lain curiga.

Suara 3 orang pria yang tadi kuperkirakan duduk dibalik punggungku arah barat, kini terdengar tak cuma suara mereka, sial, percakapannya sudah panjang lebar, kesana kemari, jadi ngelantur dengarnya. Ah, masih banyak orang-orang yang saling bertukar pandang dengan cara demikian nikmatnya. Sambil ngerokok, mesen kopi hitam pekat agak pahit, lalu bicara soal hadist, syariat, Quran, iman, dan sembayang. Tema yang seringkali kudengar lazim di majelis yang berlangsung di ruang masjid, ruang-ruang suci pokoknya. Minimal harus ada wudhu-lah? Bagi orang-orang di dalamnya. Tapi ini enggak, mereka yang terdengar saling bertentangan saling bertukar pandang, tanpa harus menghiraukan, sedang berhadast tidak ya diri mereka? Kuperhatikan dari lamanya mereka ngopi berkerumun di cafe ini, mereka juga tak sholat seperti saya, dhuhur sudah kelewat 30 menit yang lalu, sekarang sudah ashar. Ah, mungkin aku saja yang tak tau kalau mereka sudah sholat, apa pentingnya juga, lagi pula aku kan tak tahu wajah-wajah mereka, karena ku punggungi dari awal setibanya mereka memesan makanan dan minuman.

Ku dengar suara orang berbicara, tepat dari arah barat, mungkin kerumunan para pria awal tadi kudengar sedang melanjutkan percakapannya, yang telah dimlai dari awal. Pria ketiga kali ini berbicara. “Yang jelas syariat itu sudah pasti gak boleh di ganggung gugat, bener itu bener, dosanya jelas larangannya gamblang, mau baca atau tidak dilanggar ya tetap dosa kita. Tapi manut dawuh para ulama untuk mengetahui bagaimana cara ibadah yang benar, tetap dalam garis besar tuntunan rosul juga penting. Bagaimana mungkin kita bisa meniru rosul yang hidup dari jaman yang kita sendiri bingung seperti apa membayangkannya, diperparah lagi disana gak ada warung kopi, android, laptop, jam tangan, microphone, dan keran air. Kita butuh pemaknaan yang halus agar tetap esensinya dan substansinya mirip betul, tak membuang sama sekali dari rosul.”

“Kalau modal niat tapi gak terlalu paham syariat bagaimana.” Orang kedua yang tadi dipotong terus percakapannya oleh orang kedua, bertanya.

“Ya gak bisa dibenarkan juga. Tapi niat itu juga sudah menunjukkan kebaikan kita dihadapan Tuhan, terlebih-lebih niatnya juga berpengaruh baik bagi perilakunya.” Kata orang ketiga.

“Jangan sampai dong, kalau bisa. Jangan sampai jadi, kan dulu itu aku lupa pasang.” Nada bicara seorang pria lain, bukan dari arah barat tempat meja 3 pria yang membahas soal agama tadi. Ah aku lupa suaranya tepat dari meja dari perempuan yang duduk di sebelah selatan punggungku yang bicara soal hamil tidaknya dirinya. Masih tetap penasaran mereka ini pasangan yang telah berkeluarga atau masih pacaran. Rasa penasaran ini kembali menyita perhatian ku dari percakapan tentang agama yang tadi. Bolak-balik. Agama ke persetubuhan, persetubuhan ke agama, sudah terhitung 2 kali, cerita dari penggalan hidup seseorang saling silang sengkarut, menggerumuti rasa penasaranku. Lelah, dan tidak penting sebenarnya, tapi bikin penasaran, mau gimana lagi. Hidup bukan sekedar memilih turus konsekuensi dengan pilihan. Tapi hidup tentang terima dan tidaknya dirimu pada situasi dimana kau terjebak dan tak mampu mengelak.  “Padahal sudah tak keluarin di luar loh, tapi kok masih ada yang masuk ya. Pokonya kau belum siap.”

Kok gitu sih?” Percakapan mendadak berhenti setelah tak lama si perempuan menangis tersedu-sedu dibangku cafe tampat ia dan pria, entah pacar atau suaminya bercengkrama menikmati rindunya angin sore melipir kening. Suara tak karuan dan sesekali hentak meja, terdengar pula denting gelas yang ngguling dari penampangnya, semuanya begitu mendadak terdengar. Menandakan meja di selatan punggungku orangnya hendak memungkasi agenda ngopinya, tapi dengan begitu tergopoh, bak tersengat rasa kaget, seorang perempuan terdengar menangis, sepertinya suara itu berasal dari meja di selatan punggungku, pasangan itu bergegas membayar dan pamit dengan cepat, nampak begitu tiba-tiba. Menurut informasi dari bartender yang merangkap sebagai kasir, sekaligus sebagai koki pembuat kopi, perempuan tadi menangis lantaran dapat kabar mendadak karena neneknya mendadak meninggal, yang membuat perempuan itu bertambah histeris lagi, neneknya meninggal sebelumnya tadi pagi barusan merayakan hari ulangtahun yang kesekian, tukang kopi dan kasir itu lupa katanya. Setelah mendapat broadcast bergambar ternyata neneknya meninggal denga cara tak wajar tersedak buah cerry yang menjadi hiasan roti hadiah ulang tahunnya. Foto itu menjadi broadcast, yang menghalilintar menggelar memapras jantung perempuan itu. Tapi tidak dengan pria yang aku tak tau ia suaminya atau sekedar pacarnya, yang telah meng-hohohihe dirinya. Ia tersentak kaget nyaris tertawa, bagaimana ku tahu, aku mendengar jelas dengan kepala dan telingaku, tanpa mata. Laki-laki itu nyaris tertawa terbahak-bahak, nyaris terpingkal pula, setelah android perempuan itu disahutnya dengan maksud meneliti apakah gerangan musabab yang membuat gundah kekasihnya. Aku lupa ini menjelang Isya, bukan lupa tapi terlampau batas.

Susu soda itu masih belum habis, belum juga sampai setengah,  hendakku minum, tapi susu dan ampas sodanya sudah mengapung dipermukaan gelas bak buih sampai pintu air Wonokromo. Airnya mendadak keruh, tidak bening, keruh warna merah. Aku tak jadi menyeruputnya. Kutinggalkan saja tergeletak, biasanya aku membawanya kembali ke meja bartender, agar ia yang sendirian menahkodai cafe ini, tak begitu kerepotan menghadapi aku pelanggan membosankan yang merepotkan, sembari membayar susu soda itu, harganya tak terlalu mahal. Karena itu membuatku sering kembali dan memesannya lagi.

Cafe mendadak sepi, sola-sola suara dzikir berkumandang lantang di sebuah langgar sebrang cafe. Langgar dengan pintu kecil, kurang lebih cukuplah menampung mereka yang lalu layang dan kebetulan menoleh ke arah langgar, lantas mendadak teringat, bahwa bukan karena kebutuhan atau kewajiban untuk menyembahmu Sang Hyang, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Tapi Karena welas asihmu yang kusadari bagaimana caranya aku mencicil dalam rangka membalasnya, kalau tidak dengan dengan cara bersyukur dan mengelu-elukan dzatmu.

Dipertengahan sujud rokaat ke 2 sholat Magrib, kebetulan ditemani oleh nyaringnya sound system yang melantunkan syair tanpo waton, sebagai pertanda 10 menit lagi sudah masuk Isya. Mendadak aku teringat, mereka yang berpeluh, dahaga, lapar, dikejar deadline, tuntutan laporan, manipulasi anggaran, dan yang lalu lalang dibalik punggungku dalam posisi duduk diantara dua sujud. Jari telunjukku terangkat, tepat saat kusebut mesra asmamu sebagai pengingat, agar tak menyampingkan mereka yang tak sempat bersujud dan bersilah pasrah diserambi ini. Agar tak memfitnah mereka yang mendadak lupa apa yang harus didahulukan diwaktu sempit ini, agar tak sekali-kali berani menghujat rendah mereka yang belum menyempatkan berserah atas apa yang mereka kejar dari pagi hingga pagi lagi.

Semakin dekat diriku pada-Mu, menandakan semakin lancang diriku dihadapan mahkluk-Mu. Semakin dalam aku bercinta dengan-Mu, menandakan semakin arogan aku mengekploitisir rasa rindu bersama-Mu dihadapan sesamaku. Aku tidak lagi takut, akan Kau terima atau Kau tolak mentah-mentah amal ibadahku. Aku tak lagi risau kau hendak mengampuniku atau kau menyampakkanku yang berpeluh air mata dan dahaga. Yang ku takutkan cuma satu, menganggap mereka sebagai sesamaku, lebih rendah dihadapan-Mu. Karena sorban, kopyah, sarung dan sajadah yang tiap hari kusempatkan untuk kubawa di ransel kecil pemberian kakekku.

Dalam doaku yang sepertinya tak boleh berlama-lama lagi aku sematkan, karena sebentar lagi masuk Isya. Ya Tuhan, aku sepakat dengan orang ketiga yang tak sengaja kudengar pendapatnya tentang tata cara menghadapmu. Tapi aku tak menolak dengan orang kesatu tentang syarat dan standarisasi yang telah kau tetapkan, tapi Ya Tuhan yakinlah keragu-raguan dan ketidaktahuan orang kedua adalah kepastian keadan yang sama kiranya, dengan yang aku rasa. Harap maklum Ya Tuhan, harap maklum.

Kumandang adzan dari seorang muadzin yang jawara lomba qiraah se-provinsi menghenyak kesyahduanku bersama entitas dzat Yang Maha Tempat Berserah Diri. Rasa kaget, disusul rasa jengkel dan geram mendadak menjadi kalimat penutup dari doa yang kusematkan. Sudah-sudah. Biar ku nikmati dulu rasa kesal ini, di emperan serambi langgar yang berukuran 3 x 9 meter persegi, menghadap ke arah jalan raya, dengan menyulut rokok kretek, aku jongkok dengan sedikit melingkis sarung, dan menyampirkan sorbanku, sembari menyahut lantunan adzan dari muadzin kurang ajar. (Luhur Pambudi)

Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *