Panitia PKK-MB FPK Tenggelamkan Budaya Perpeloncoan

Bagikan

Meninggalkan budaya “perpeloncoan”, Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun ini mendapat respon positif dari pihak yang terlibat, terlebih mahasiswa baru dan didukung penuh oleh panitia penyelenggara Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK).

alamtarapersma.com – Perpeloncoan, sudah tidak asing lagi untuk didengar oleh setiap kalangan masyarakat apalagi dalam kehidupan kampus yang dialami mahasiswa baru. Banyaknya kasus perpeloncoan yang terjadi terutama saat orientasi pengenalan kehidupan kampus mengakibatkan mahasiswa baru yang tidak sedikit beranggapan bahwa kegiatan ini akan menjadi momok menakutkan apabila tradisi perpeloncoan masih terus dilakukan.

Namun, tidak demikian dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang telah melarang budaya perpeloncoan salah satunya Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK). Seperti yang ditegaskan oleh Ketua Panita Penyelenggara PKK-MB Tahun 2017, Achmad Agus Affandi, beliau mengatakan, “Tidak ada perpeloncoan. Karena kita menerapkan prinsip humanisme, lebih mengedepankan rasa kemanusiaan”. Hal tersebut dibuktikan dengan salah satu tindakannya yaitu melakukan pendekatan kepada para mahasiswa baru melalui pertemuan yang diadakan beberapa hari sebelum pelaksanaan PKK-MB antara panitia dengan mahasiswa baru. Pertemuan tersebut bertujuan untuk mempererat serta menghimbau kepada para mahasiswa baru untuk tidak beranggapan bahwa PKK-MB FPK menerapkan budaya perpeloncoan.

“Mereka itu bener-bener sabar, kami telat nggak dikasih hukuman secara fisik, bahkan sempet dibercandain.” Terang Misy’al Manar Budloyev yang merupakan salah satu peserta PKK-MB Program Studi Psikologi. Dengan tidak adanya perpeloncoan, pemuda asal Brebes, Jawa Tengah ini mengapresiasi komitmen panitia dalam menjalankan kegiatan tanpa ada unsur kekerasan secara verbal maupun non verbal yang selalu terjadi di kalangan mahasiswa baru saat ini. Disisi lain, dirinya pun mengaku mendapat banyak pelajaran dalam kegiatan PKK-MB yang sudah berlangsung selama 4 hari ini seperti leadership/kepemimpinan serta kesabaran, “Ada 2 hal yang diajarkan oleh semua kakak kelas yaitu kepemimpinan dan kesabaran. Jujur itulah yang paling berharga menurut saya.” Ujarnya. Dan menurut pemuda yang biasanya dipanggil “Al” ini, dengan tidak menerapkan unsur perpeloncoan, hal tersebut mengindikasikan sebagai salah satu bentuk kepemimpinan yang baik.

Lain halnya dengan tanggapan mahasiswi baru bernama Lista Nuri Imrotus Sholihah yang juga merupakan peserta PKK-MB tahun ini. Perempuan asal Sidoarjo ini, beranggapan dengan adanya PKK-MB menjadikan kegiatan tersebut sebagai ajang untuk memperluas lingkup pertemanan. “Bisa kenal dekat dengan teman-teman baru, yang tadinya cuma kenal sekitar Sidoarjo. Sekarang makin banyak dapat teman yang berasal dari luar kota juga.” Jelasnya. Sementara, ketika Kru LPM Alam Tara menanyakan mengenai perpeloncoan, Lista menjawabnya dengan penuh keyakinan bahwa, “Tidak ada perpeloncoan, dan fakultas kita itu paling damai.”

Salah satu panitia penyelenggara PKK-MB pun berharap dengan tidak adanya perpeloncoan ini mahasiswa lebih bisa menimakti proses didalamnya dan tetap fokus mengikuti kegiatan. Seperti ucapan Andari Nur Rahmawati selaku panitia yang ditemui oleh Kru LPM Alam Tara di Gedung Self Access Centre (SAC) disela-sela kegiatan PKK-MB mengatakan, “Kan sebagian besar mereka udah aktif semua, diharapkan mereka lebih bisa mengembangkan bakatnya lagi. Ini kan nggak ada intimidasi, kalau dulu kan masih ada intimidasi.”

Andari juga berharap dengan ditiadakannya perpeloncoan akan mengembangkan aspek pendidikan dan psikologi dari peserta PKK-MB. “Jadi semoga saja dengan tidak adanya perpeloncoan ini mereka bisa berkembang pendidikannya dan lebih dikenalkan ke arah psikologinya.” Tegasnya. (Fik/Ald)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *