Imu Pengetahuan, Modernisasi dan Kompleksitas Cara Berpikir Manusia

Bagikan

Dalam milenial terakhir, muncul sekelumit argumentasi yang menjungkir-balikkan teori konvensional heliosentris, setelah bertengger dalam benak umat manusia selama 500 tahun terakhir, konspirasi-agenda besar Global Elite yang berhasil ditanamkan pada institusi atau lembaga pendidikan di seluruh dunia atas program kerja dari United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Antitesisnya berisi tentang teori geosentris, Matahari dan Bulan mengelilingi Bumi yang kita tinggali, dengan dasar konseptual yang dituliskan dalam berbagai Kitab Suci agama samawi atau ardhi, desain alam yang saling menyeimbangkan, divine balance energy, seringkali dikenal dengan yin-yang. Dunia seketika gempar, terpecah beberapa fraksi-golongan. Dari sini saya menyadari, bahwa ilmu pengetahun atau sains dapat menjadi agama yang tidak disadari, telah menjadi pegangan dalam tindak-tanduk kehidupan. Namun saya tetap mengingat pesan-pesan dari seorang Mahasiswa Psikologi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya dalam beberapa kesempatan, “Jurnalis tidak boleh mudah termakan isu-isu seperti demikian, jurnalis harus mencari realitas-fakta-data yang kredibel-valid, menilai sesuatu dengan seimbang-tidak memihak salah satu sisi, tidak mudah menerima sebelum melakukan aktivitas menguji dengan kritis berbagai pemikiran baru yang muncul,” akumulasi pesannya.

Esai ini merupakan belahan pro­ atau dukungan-pelengkap atas karya tulis santai dari Luhur Pambudi berjudul Ilmu Pengetahuan Ini, Mau Kau Bawa Ke Mana? Yang diunggah pada Portal Berita LPM Alam Tara (alamtarapersma.com), tahun 2016 lalu. Berisi mengenai kesesatan berpikir dan keraguan manusia atas ilmu pengetahuan yang setiap pagi hingga menjelang adzan maghrib berkumandang di Masjid Raya Ulul Albab, UIN Sunan Ampel Surabaya, diperjuangkan sedemikian rupa, dengan berbagai macam dalih fungsional-legitimasi-pembelaan yang mendukung aktivitas kuliah mereka ketika muncul pertanyaan fundamental-mendasar yang berisi, “Rek, kita kuliah untuk apa sebenarnya? Untuk mendapatkan ijazah kah? Lantas memperoleh pekerjaan yang bergengsi? Untuk menimba ilmu pengetahuan kah? Lantas ilmu pengetahuan itu berguna mengembangkan peradaban umat manusia semakin baik? Atau kita kuliah berbekal tendensi sekadar mencari seseorang yang cocok apalagi pantas, untuk kita sunting sebagai calon suami atau istri demi menjalani kehidupan berikutnya nanti?” tanya mereka.

Dari sini, ilmu pengetahuan menjadi bahasan yang begitu menarik, unik-berbeda, filsafati, menuai kontroversi, bahkan sarat-basah akan adanya kontradiksi, bila ditelisik dari perkembangan zaman-periode konvensional menuju zaman milenial, modernisasi, globalisasi, bonus demografi, atau berbagai sebutan sejenis. Dengan tetiba saya teringat pesan Whatsapp yang pernah dikirim Luhur Pambudi untuk beberapa kadernya, “Ini adalah zamanmu anak muda, sebuah peradaban yang dapat kamu kembangkan, semua keputusan hanya dapat kamu pertimbangkan dengan akal sehat, logika dan rasionalitas, bukan pertimbangan dari kami—para orang tua,” tuturnya. Redaksional yang berbunyi peradaban, pengembangan dan logika-rasional membuat saya tertarik untuk memahami lebih dalam, jangan-jangan  ada semacam  komposisi  menawan  terselip pada  ketiga kalimat tersebut?

Dengan tidak sengaja, saya menemukan subliminal message di balik semak belukar dan pepohonan yang rindang di tengah belantara hutan, bahwa ilmu pengetahuan berperan-kontribusi dalam pengembangan peradaban manusia. Baru saja, 23 Desember 2017 lalu, ketika LPM Alam Tara mengadakan Musyawarah Angkatan Tahunan (Mustang) periode 2017-2018, saya menemukan aha moment ketika memandang dengan lamat lembar-lembar Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang sedang direvisi-diperbarui habis-habisan dengan berbagai kritik redaksional-hermeneutik dari berbagai pemahaman tempurung masing-masing  peserta  yang hadir  di ruang  kelas  J206 tersebut.

Kampus merupakan miniatur negara, berisi trias politica seperti tutur Hegel, terdiri dari tiang penyangga legislatif pembuat kebijakan, eksekutif sebuah lembaga implementasi undang-undang yang telah disusun, berikutnya ada pilar yudikatif sang penegak hukum bila terjadi pelanggaran-pelanggaran atas kebijakan yang telah diproduksi. Dalam miniatur negara atau kampus, organisasi mahasiswa merupakan replikasi mini dari organisasi masyarakat, setiap organisasi juga punya dasar kebijakannya, termasuk AD/ART LPM Alam Tara tempo waktu yang telah dibacakan dan dikoreksi habis-habisan dari pagi hingga sore menampakkan wajah indahnya, karena tidak ada awan mendung.

AD/ART merupakan undang-undang, dasar dari bergeraknya organisasi, konseptual dari sistem kerja organisasi, blue-print atau proto-tipe dari setiap agenda-program kerja yang dijalankan bersama dalam organisasi demikian, dalam hal ini LPM Alam Tara, FPK, UIN Sunan Ampel Surabaya. AD/ART menjadi basic  atau dasar argumentasi organisasi. Saya akhirnya memahami, bahwa hukum dapat dibuat penguasa untuk melancarkan berbagai tujuannya. Hukum yang seakan-tampak baik, melindungi proletar yang sarat ketidakberdayaan, ternyata berpotensi menyimpan tendensi-tendensi tertentu dari penguasa yang sedang memegang tampuknya. Hukum atau undang-undang, dapat dijadikan alat atau jalan tol yang mempercepat tercapainya visi-misi organisasi, atau terjadi momentum kurang benar dalam penyusunannya, bisa membuat perjalanan-destinasi belajar-impian organisasi demikian menjadi terhambat dan berhenti di tengah persimpangan traffic light. AD/ART atau undang-undang, merupakan potensi subur yang berkontribusi dalam mengembangkan peradaban. Kalau memang demikian, lantas bagaimana mengembangkan peradaban dari lembar-lembar AD/ART atau undang-undang yang disusun secara kolektif sampai ada yang bosan dan terlelap tidur?

Saya akan kembali dulu kepada statement awal yang berbunyi, “Ilmu pengetahuan dapat berguna untuk mengembangkan sebuah peradaban menjadi semakin baik,” dapat kita evakuasi pada dimensional AD/ART atau undang-undangnya. Akan tetapi, untuk merevisi-mengembangakan-memperbarui lembaran undang-undang tersebut, diperlukan ilmu pengetahuan, pemahaman, pengalaman, strategi yang begitu basah dan matang. Maka dari itu aktivitas membaca, belajar, diskusi, kajian, kuliah, begitu diperlukan sebagai komposisi atau syarat untuk memiliki kompetensi demikian. Pembahasan mengenai hal ini akan saya tuliskan secara komprehensif pada bagian lain esai ini.

Bahan gugatan senior Luhur Pambudi pada tulisan yang berjudul Ilmu Pengetahuan Ini, Mau Kau Bawa Ke Mana? Poin-poinnya meliputi: Keterkaitan ilmu pengetahuan dengan magang, perguruan tinggi kurang kompeten dalam menjalin link atau kerja sama dengan institusi-lembaga referensi lokasi magang, prospek kerja jurusan psikologi yang beragam, kompetensi yang kurang dari pelaku magang, perguruan tinggi yang tidak peduli-kurang tanggung jawab dalam mengawal alokasi lapangan pekerjaan bagi mahasiswa-mahasiswi fresh-graduated yang dimilikinya, pertanyaan primitif kebergunaan-fungsional dari ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan menghasilkan etika-adab yang menawan, poin terakhir berisi  kontribusi-perbuatan-peran apakah yang dapat dilakukan setelah  menjadi  sarjana?

Dalam bahasan ini, kita akan masuk pada ilmu pengetahuan di zaman milenial, modernisasi, globalisasi, bonus demografi, kontemporer, atau peristilahan lainnya, yang banyak berdimensi pragmatik-fungsional-transaksional, “Aku dapat apa jika mengerjakan ini? Aku untung apa bila menjalankan itu? Aku memperoleh apa jika berteman dengan kamu? Apakah jurusan ini menjamin kemapanan masa depanku? Organisasi LPM Alam Tara ini memberikan apa saja kepadaku?” dan berbagai struktur question yang serupa-mirip demikian. Pertemanan-relasional­-hubungan-romansa bahkan tercemar dan terjangkit cara berpikir pragmatik demikian, relationship transaksional. Sekarang, di masa kita menjalani kehidupan, semua diukur dari kadar kebermanfaatan, untung-rugi, laba-bangkrut, yang bernilai material, kebendaan, katon, pragmatik. Pertanyaan yang memiliki struktur volunteer, relawan, keikhlasan, kemurnian hati yang demikian indah semacam, “Apa yang bisa aku kerjakan? Apa yang bisa aku berikan kepada orang lain? Apa yang bisa aku persembahkan untuk Program Studi Psikologi, FPK, UIN Sunan Ampel Surabaya? Apa yang bisa aku dermakan untuk menyelamatkan masa depan anak-anak pelosok desa tersebut? Prestasi atau kontribusi apakah yang dapat kami berikan untuk LPM Alam Tara?” sudah mulai diambang kepunahan dan kemusnahan secara kolektif. Mungkin beberapa yang masih memiliki mindset demikian, tapi banyak civil society berprasangka buruk dengan cara berpikir tersebut, kadang akan disebut “bodoh”, apabila memang mereka percaya-menganggap kita jauh dari labelisasi “orang baik” yang memiliki nurani anggun.

Demikian adalah realitas-fakta yang berselonjoran santai di depan kehidupan kita, banyak yang bertebaran, berkeliaran, hidup bebas menjangkiti-menularkan cara berpikir material yang primitif. Dengan argumentasi yang kerapkali dibanggakan mereka yang berendam pada dimensi industri perusahaan, “Kalau kalian sekarang bersikap idealis, kalian akan mati oleh kehidupan yang sedang materialistik, kalian harus realistis dengan kondisi sekarang,” tutur beliau.

Ilmu pengetahuan menjadi sekadar alat komersil, konversi tenaga menjadi uang, untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya. Tulisan-tulisan Luhur Pambudi yang judulnya sudah saya sematkan di atas, merupakan konten yang saya juga setuju, lantaran ilmu pengetahuan telah dimaknai-direduksi manfaat-makna-pengertiannya menjadi sesempit demikian. Kita merasa tahu berbagai ilmu pengetahuan, tapi kita masih bersikap kurang normatik-estetik kepada ilmu pengetahuan, secara aware atau tidak sadar, “Akhirnya saya tahu kalau sebenarnya kita ini sama saja. Tidak memiliki apa-apa. Tidak pantas bangga dengan yang ada, kita tak pernah ada pembeda, bahkan tak pantas membeda. Karena Socrates terang menandaskan, ‘Kita sebenarnya tidak tahu apa-apa?’” tulis Luhur Pambudi pada akhir esainya tersebut, begitu masuk akal dan koheren.

Di awal perkuliahan semester satu, ingatan itu masih ternaman dengan baik, ketika Prof. Dr. Moh. Sholeh, M.Pd. PNI, Dekan FPK serta Fakultas Sains dan Teknologi (FST), UIN Sunan Ampel Surabaya, menjelaskan tentang klasifikasi mitologi, filsafat, pengetahuan dan ilmu pengetahuan, dalam Mata Kuliah Pengantas Studi Islam (PSI) yang dihelat pada siang hari tersebut, “Pengetahuan adalah informasi yang kita peroleh dari indra kita, alatnya panca-indra. Jeruk rasanya asam, daun berwarna hijau, api suhunya panas, dan sebagainya. Sedangkan ilmu pengetahuan berbekal proses lebih panjang lagi, karena alatnya adalah akal dan pengukuran empirik,” terangnya secara esensial, yang penulis susun sedemikian rupa, namun konten penjelasannya sama.

Sehingga dalam kontemporer ini, ilmu pengetahuan benar-benar berkembang dalam bidang pragmatik, menghasilkan produk-produk elektronik ataupun teknologi-komunikasi-informasi yang membantu manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Telepon genggam-smartphone-handphone-telepon seluler, merupakan contoh konrit dalam majunya ilmu pengetahuan, dalam bidang teknologi-komunikasi-informasi. Kontemporer juga muncul Fourth Generation (4G) dalam atribut kemajuan teknologi informasi yang disebut dengan jaringan Long Term Evolution (LTE), dengan kecepatan surfing,  download,  upload yang  begitu  kencang,  sekian nilai Mega Byte/Second (MBps).

Dari sini, kacamata kita dapat melihat dengan jelas, ada semacam kontradiksi, paradoksal, bertolak-belakang, dua sisi mata pisau, dualitas, polaritas, dari kehidupan manusia, terlebih pada dimensional ilmu pengetahuan, modernisasi, globalisasi, bonus demografi (beberapa terdengar sering dilontarkan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tempo waktu), teknologi, komunikasi dan informasi yang terhampar sekarang. Dengan berbagai anomali demikian, kehidupan serasa chaos atau kacau, kurang rapi-tertata, tidak bisa diprediksi dan dikendalikan secara 90-100% tepat. Dari perihal demikian, berikutnya model-model berpikir Filsafat Dekonstruksi, Hermeneutika Radikal, dari Jacques Derrida yang telah dijelaskan dalam esai sebelumnya, menjadi perlu digunakan.

Dengan bekal pengetahuan masing-masing, hasil menimba di berbagai institusi-lembaga pendidikan dasar, menengah, akhir hingga tinggi, setiap orang memiliki keilmuan yang kapasitasnya berbeda setiap masing-masing orang. Mereka punya kelihaian dalam mendebat, berargumentasi, berpendapat, berkata, berujar, membuat quotes, beropini, mengkritik, memberikan saran, bertanya, menjawab, menulis, semua terlihat berbicara. Semua orang merasa tahu segala hal, berikutnya kita dapat menemui-menjumpai berbagai fenomena di media sosial, seperti status-status Facebook yang begitu panjang, berisi tentang materi-bahasan tertentu terkait ilmu pengetahuan, ataupun hanya sekadar argumennya atas fenomena yang baru saja diamati-ditemui dalam realitas kehidupan. Di sisi lain, masyarakat beruntung sudah memiliki keilmuan ideal, di koridor berikut, bersua kembali dengan problem baru-kontemporer, semua bersuara, menjadi speaker bagi darpur pemikirannya masing-masing. Memperdebatkan kebenaran personal-individu, saling memperlihatkan kepandaian bahkan di kolom komentar-komentar media sosial yang nadanya mendebat, mengkritik,  kontra, namun  bersikeras  dengan  sikapnya yang ngeyel.

Berita hoax muncul, subur dan bertumbuh di tengah masyarakat yang reaksioner, kacau, chaos dengan cara berpikir yang berbagai macam spesiesnya itu. Dengan tetiba saya teringat dengan tuturan Emha Ainun Nadjib, atau akrab disapa Cak Nun, dalam setiap kajian Maiyah Bangbang Wetan, Padhang mBulan, Kenduri Cinta, atau berbagai forum serupa, menjelaskan bahwa kebenaran adalah dapur masing-masing orang, “Letaknya dapur di belakang, simpan baik-baik, jangan diumbar dan ditampilkan di depan, jangan dijadikan display-tampilan utama dirimu. Itulah yang membuat setiap orang berseteru. Pada zaman ini, kita akan bertemu fenomena: Kebenaran bermusuhan dengan kebenaran,” jelasnya dalam beberapa kesempatan kajian yang berbeda.

Dari perjalanan beberapa bab di atas, lantas apakah kita sudah mendapatkan, paling tidak kita memahami, manfaat dari ilmu pengetahuan selain perihal profesi, pekerjaan dan konversi uang? Bila sudah menemukan, apakah manfaat ilmu pengetahuan yang anda temukan itu? Apabila belum, bagaimana upaya yang akan anda lakukan untuk menemukan manfaat dari ilmu pengetahuan itu? Bahasan mengenai hal demikian, terutama ilmu pengetahuan, tidak akan selesai hanya dalam satu bagian esai saja. Karena saat membahas pengetahuan, kita didampingi oleh filsafat ilmu yang juga membahas hal serupa. Dalam ilmu pengetahuan, ada tiga hal pokok yang tidak dapat ditinggalkan, sebuah struktur bangunan yang telah berdiri begitu lama, di antaranya: epistimologi, ontologi dan aksiologi. Apakah maksud dari ketiga hal itu?

Epistimologi, dalam kajian filsafat ilmu, memiliki makna sederhana sebagai upaya mempelajari-merumuskan ilmu pengetahuan. Sedangkan ontologi, merupakan objek ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari. Misalkan ontologi dari psikologi adalah, manusia dalam aspek kejiwaan-psikis dan perilakunya, fokus kajian dari science. Terakhir adalah aksiologi, masuk dalam dimensional nilai, etika, estetika, norma, hukum, aturan, manfaat dari ilmu pengetahuan itu bagaimana, seperti apa. Kajian mengenai filsafat ilmu dapat ditemukan sebagai mata kuliah wajib pada bidang pasca-sarjana atau doktoral. Karena memang bidang ini merupakan vital bagi ilmu pengetahuan.

Dalam bagian kompleksitas cara berpikir, kita akan bertemu dengan berbagai kemelut, labirin, liku-liku berpikir yang macamnya berjibun. Dari kondisi zaman yang chaos atau kacau, ditengarai dari fenomena berebut kebenaran, debat seteru, di media sosial, saling melemparkan status anti-pancasila kepada sesama warga negara, banyaknya berita hoax yang subur di tengah masyarakat, kebencian-kebencian mudah disulut di antara golongan atau Organisasi Masyarakat (Ormas), dan semacamnya, membuat kita sedikit buram, fatamorgana, ilusionik, dalam melihat kebenaran-kesalahan, kebaikan-keburukan, keindahan-kesederhanaan, yang bergelayutan di tengah civil society. Berbicara kompleksitas cara berpikir, kita dihadapkan pada dimensional argumentatif-spiritual, berupa dualitas-polaritas kehidupan, terlebih statement mengenai non-dualitas, hingga merasuk pada dimensional etika, estetika, kesenian, nilai, tata krama, keindahan, yang kadang agak kontadiktif bila seseorang itu kompeten  dan  punya  keilmuan yang memadai (Rangga Prasetya, Penulis adalah Mahasiswa Semester 5, Fakultas Psikologi dan Kesehatan, UIN Sunan Ampel Surabaya).

Bagikan

1 thought on “Imu Pengetahuan, Modernisasi dan Kompleksitas Cara Berpikir Manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *