Overaction 3.0 Meriahkan Peresmian Anggota Baru UKM Mugi

Bagikan

alamtarapersma.com – Minggu, 6 Mei 2018 acara peresmian anggota baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Musik Psikologi (Mugi) berbalut festival patrol membuat event ini berbeda dari yang lainnya. Kebanyakan kegiatan kampus diisi dengan seminar, adapun lomba biasanya yang diadakan yaitu Karya Tulis Ilmiah (KTI), banjari, lomba tarik suara atau bahkan konser yang mengundang bintang tamu. Tetapi mugi mampu mengemasnya dengan look yang sedikit berbeda yaitu dengan menyelenggarakan lomba festival patrol yang diikuti peserta dari Surabaya dan Sidoarjo.

Acara ini diawali dengan berbagai sambutan oleh ketua pelaksana, beberapa petinggi UKM, serta perwakilan Senat Mahasiswa (Sema) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema). Tak lupa juga dilantunkan ayat suci al-Quran dengan indah oleh Nana Fitriani yang sekaligus menjadi perwakilan Sema. Acara yang berlangsung hingga siang hari itu menghadirkan salah satu juri yang tak biasa, yaitu Putri Muslimah UIN Sunan Ampel Surabaya, Anisa Nabila. Para juri sangat mengapresiasi event ini, mereka berpendapat bahwa musik patrol yang tadinya hanya difungsikan membangunkan orang sahur saja sekarang justru merambah ke dunia hiburan.

Event ini sebenarnya digunakan untuk meresmikan anggota-anggota baru Mugi tahun 2017, “Jadi sebenernya acara ini tuh untuk memperkenalkan sekaligus meresmikan anggota-anggota baru Mugi yang tahun 2017,” keterangan panitia Mugi, bernama Ira. Acara ini juga sudah dirancang sekitar bulan Januari-Februari dan berhasil dilaksanakan bulan ini, “Sebenarnya acara ini udah direncanakan sekitar bulan Januari kalau nggak Februari tapi baru terlaksana bulan ini,” lanjut Puput.

Tak lepas dari beberapa kendala yang harus dihadapi segenap panitia Mugi menjadi tantangan tersendiri. Mulai dari sulitnya mendapat izin untuk menggunakan Gedung Auditorium hingga mencari peserta yang seharusnya ditargetkan 20 dan hanya membuahkan 15 peserta dan lain sebagainya. Tak kekurangan ide, selain menyelenggarakan fesitival patrol, UKM Mugi juga menyediakan bazaar di depan gedung audit.

Festival patrol ini dipilih karena tidak memerlukan peralatan yang begitu banyak dan pastinya unik lain dari pada yang lain karena jarang diselenggarakan khususnya di ruang lingkup kampus, “Karena musik patrol ini tuh unik ya, kita nggak perlu susah-susah untuk nyediain alat-alat musik, soalnya mereka bawa sendiri, kalau kita ngadainnya lomba ngeband yang pasti kita harus nyediain alat-alatnya,” jelas Puput, salah satu panitia.

Sebanyak 15 tim patrol turut memeriahkan acara ini. Mulai dari anak-anak hingga remaja berhasil menarik perhatian audience, tak sedikit pula yang berdecak kagum melihat aksi mereka. Antusias peserta pun patut diacungi jempol. Bahkan ada beberapa peserta yang menyiapkan lomba ini hingga satu bulan.

Unsur budaya sangat terasa ketika anak-anak dan remaja itu memainkan alat-alat musik tradisional seperti, kenong, gong, angklung, dan rebana, tidak hanya itu saja, seakan tak kehabisan akal barang-barang bekas pun seperti drum air yang sudah tidak terpakai juga menghiasi aksi mereka. Bahkan ada juga yang menggunakan alas bakiak atau sandal yang terbuat dari kayu untuk menambah estetika dan kekayaan harmoni yang mereka suguhkan. Soal tampilan pun tak luput dari perhatian, berbagai corak warna turut menghiasi aksi panggung berpadu dengan indah di pakaian yang mereka gunakan.

Alunan lagu-lagu tradisional turut menghiasi Gedung Auditorium. Seakan tak lekang oleh zaman, generasi-generasi muda yang yang menampilkan aksi tersebut mempu mengkolaborasikannya dengan indah. Keseluruhan peserta membawakan lagu Rek Ayo Rek sebagai hidangan utama dan diikuti lagu tradisional Jawa lain seperti Gundul-Gundul Pacul dan lagu jawa lainnya. Salah satu peserta berhasil meleburkan lagu-lagu  tradisional tersebut dengan lagu yang sedang hits yaitu lagu milik penyanyi Justin Bieber, Despacito.

Acara berlangsung meriah dengan menampilkan peserta patrol yang terdiri dari 7-15 orang. Mereka dengan lihai menyajikan gending musik tradisional yang dibalut formasi tarian dan dipadukan dengan ciri khas musik patrol itu sendiri yaitu kentongan. Ada beberapa peserta yang menyisipkan sholawat ditengah musik tradisional yang mereka suguhkan. Ada juga peserta yang tak tanggung-tanggung memberikan sentuhan puisi yang cukup menampar bagi generasi muda, yaitu dengan menyindir bahwa generasi zaman milenial ini untuk diajak beribadah saja susah dan justru dengan mudahnya terbawa dengan arus negatif globalisasi.

Di akhir acara, UKM Mugi menampilakan sejumlah aksi panggung dari anggota-anggota barunya tahun 2017 dilanjut juga dengan pengumuman juara festival patrol. Tim patrol Sapujagad berhasil menyabet juara 1, juara 2 ditempati oleh tim patrol Slendro, dan Palangjiwo yang menduduki urutan ketiga. (Rtn)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *