Materi Baru Untuk Generasi Milenial di Tengah Acara PBAK

Bagikan

Alamtarapersma.com – Pada tanggal 28 Agustus 2018, Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya mengadakan Pengenalan Budaya Kampus dan Kemahasiswaan (PBAK) dengan tema “Mewujudkan Mahasiswa Menjadi Patriot NKRI yang Berilmu dan Berakhlaqul Karimah”.

Acara tahunan ini diagendakan selama empat hari dengan materi yang berbeda tiap harinya, dan ditempatkan di Gedung Sport Center (SC) yang terletak di selatan Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, acara ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa baru 2018, jajaran akademisi fakultas dan rektorat, serta perwakilan panitia yang diambil dari setiap fakultas.

Agenda pekan perkenalan kampus ini diawali dengan Opening Ceremony PBAK yang dialokasikan di depan Gedung Twin Tower bersama panitia dan tim pendamping PBAK lalu dilanjutkan dengan pemberian materi-materi dari dosen pilihan kampus di SC.

 PBAK tahun ini sungguh berbeda dengan tahun lalu, karena disamping acaranya disusun langsung oleh pihak kampus, acara ini dihadiri oleh seorang Mayjen TNI (Purn) sekaligus Ketua Lembaga Sensor Film periode 2015–2019.  Dr. Ahmad Yani Basuki, M. Si, alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN)  tahun 1982 ini memegang mandat untuk menyampaikan materi PBAK yang berjudul “Integrasi Keilmuan Twin Tower dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara dalam Konteks Keindonesiaan”.

Awal pembukaan Basuki menyampaikan, setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini adalah sebagai khalifah. Setiap khalifah dituntut untuk bisa mengintegrasikan satu ilmu dengan ilmu lainnya, “Karena setiap ilmu pasti memiliki anugerah dan bermanfa’at,“ tutur Basuki yang merupakan alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) tersebut.

Beliau juga menghimbau kepada seluruh mahasiswa baru untuk tidak menilai segala sesuatu dengan mendasarkan satu sudut pandang, karena seluruh ideologi itu sama. Hanya saja berbeda dari cara mereka menginterpretasikan sesuatu. Terdapat beberapa pokok penjelas yang disampaikan oleh Basuki, yakni tentang intergrasi dalam kehidupan pribadi. “Manusia adalah makhluk individu yang akan dipertanggung jawabkan. Setiap apa yang dikerjakan oleh manusia akan dituai saat di akhirat,” tuturnya. Oleh karena itu setiap individu harus memanfaatkan dengan baik setiap apa yang ia lakukan

Yang kedua beliau menyampaikan kuncinya menjadi sosok khalifah yang baik harus melalui proses yang baik dan membutuhkan waktu yang lama, dikarenakan baik tidaknya hasil bukan ditentukan melalui apa yang dikerjakan. Melainkan seberapa lama proses yang dijalankan.

Lalu poin ketiga yang disampaikan Basuki ialah integrasi diri dalam berbagai ilmu, dengan tujuan agar tidak mudah menjadi seseorang yang mudah salah paham. Maka dibutuhkan jangkauan cakrawala yang cukup luas, dengan kita mengintegrasikan ilmu agama, pengetahuan umum, dan teknologi untuk menjadikan kita lebih bijak dalam menginterpretasikan sesuatu. Dikarenakan semakin sempurna akal pikiran seseorang, maka semakin tepatlah cara menyimpulkan sesuatu.

Basuki menyingkat dua penjelasan yakni tentang integrasi antara intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ), spiritual quotient (SQ) dan keutuhan kompetensi seperti keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude), lalu ditutup setelah diadakanya tanya jawab. Materi  tersebut selesai pukul 12.00 WIB untuk diteruskan dengan istirahat, sholat, dan makan. (alf)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *