Dialektika Revolusi Industri 4.0, Persoalan Psikologis Masyarakat dan Laboratorium Psikosufistik UIN Sunan Ampel Surabaya

Bagikan

Tempo hari, Jumat, 04 Mei 2018, seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UIN Sunan Ampel Surabaya didampingi Taufiqurrahman, Wartawan Jawa Pos, yang merupakan alumni mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan 2011. Sekaligus Demisioner LPM Ara Aita, yang pernah mengisi bangku pada Humas UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia datang sebagai Narasumber pada Diskusi Intelektual bernama Kelas Jurnalistik 4.0 yang berlokasi di Ruang Sidang FDK dengan mengusung topik pembahasan “Menghadapi Era Digital dan Revolusi Industri 4.0”. Diikuti berbagai tamu undangan mulai dari Organisasi Intra dan Ekstra-Kampus, serta semua LPM plat merah dan plat hitam yang berlokasi di UIN Sunan Ampel Surabaya. Agenda tersebut diadakan dengan aras berpikir yang baik, positif, dan berwarna putih, yaitu mengembangkan kompetensi keilmuan jurnalistik, membuat ruang curhat, serta berbagi solusi dari problem yang menjadi hambatan masing-masing LPM. Berikutnya, untuk mempersatukan dan  menjalin kerukunan  untuk semua LPM di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hasil diskusi dan rapat pertemuan tersebut adalah, dibentuknya Ikatan Jurnalis Mahasiswa (IJMA) yang disetujui dan ditanda-tangani perwakilan semua LPM di UIN Sunan Ampel Surabaya. Selain itu, untuk merapikan juga aras berpikir dari fungsi dasar LPM agar berjalan ke tujuan yang sama, bukan saling berseteru dan memegang kepentingan masing-masing. “Sekarang LPM tidak zamannya lagi gontok-gontokan. Kita harus bersatu, membuat kemajuan dan perubahan yang baik untuk UIN Sunan Ampel Surabaya yang dimulai dari LPM-nya,” tutur pria yang kala itu berkemeja merah maroon tersebut, ketika menjelaskan materi Revolusi Industri 4.0 di Ruang Sidang FDK.

Namun perlu disimak juga, ada satu pembahasan menarik dari forum diskusi tersebut yang membuat saya sedikit wild thinking. Hingga masuk pada dimensi psikologis masyarakat metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya. Atau berbagai daerah lain yang belum bisa kita jangkau untuk memberikan solusi atas problematika yang didera masyarakat sekitar yang hidup pada daerah ataupun lingkungan tersebut.

Revolusi Industri 4.0 namanya. Sebuah topik yang berbicara mengenai kemajuan teknologi digital dan nirkabel (tanpa kabel, dapat disebut juga dengan wireless atau network) yang sudah mendominasi kehidupan masyarakat melalui alat komunikasi seperti smartphone, inventoris kantor seperti laptop atau Portable Computer (PC) dengan bekal fasilitas Wireless Fidelity (Wi-Fi) agar bisa terhubung dengan koneksi internet untuk mengakses informasi global yang tanpa batas. Semua teknologi tersebut dinilai efektif dan serba cepat dalam berkirim kabar, apalagi transfer informasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa menghabiskan anggaran yang begitu besar. Dibuatnya robot-robot yang memiliki kecerdasan buatan (artificial intellegence), mesin-mesin percetakan otomatis seperti 3 Dimension Printing,  transportasi  listrik yang hemat  energi dan begitu  ramah lingkungan.

Sehingga tanpa disadari—atau memang disadari dan sengaja dilakukan—ada sekian profesi pekerjaan yang sudah tidak digunakan lagi, dibuang, dimatikan, karena tergantikan oleh teknologi. Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu kasus dari orang terdekat, yang bekerja sebagai agent travel dan diberhentikan karena alasan kantor tidak bisa memberikan insentif lagi karena belakangan sudah sepi pelanggan. Fakta tersebut ditegaskan dan diperkuat menjadi semacam dampak atas munculnya aplikasi pesan tiket pesawat dan hotel secara online seperti Traveloka, Tokopedia, BliBli.com, OLX, Lazada, dan berbagai aplikasi sejenis. Apalagi, berbagai aplikasi tersebut mudah dijalankan melalui smartphone yang setiap hari bisa kita bawa ke mana-mana. Selain kasus demikian, masih ada banyak kasus lain yang dialami masyarakat. Misalkan teller bank yang akan diganti automatical machine, pengirim surat (kurir) yang didepak fasilitas modern electronic mail (e-mail), operator mesin jahit diistirahatkan diganti robot-robot dingin yang memiliki artificial intelligence. Sehingga kemajuan zaman dan teknologi membuat banyak  orang kehilangan  pekerjaan  yang dinilai global sudah tidak efektif lagi.

Dari fenomena tersebut, setidaknya kemajuan teknologi memberi pesan botol kepada kita untuk terus bergerak, berkreasi dan berinovasi, menemukan produk atau layanan baru yang relevan dan dibutuhkan masyarakat pada setiap masa, agar tidak tergerus natural selection yang begitu kejam. Dari adanya Revolusi Industri 4.0, secara tidak langsung dan tanpa sadar, terdapat sekian jumlah pengangguran bertambah. Kalau mereka bisa bangkit, kreatif dan memiliki kompetensi yang dapat dijual serta diterima industri, maka mereka bisa bertahan hidup dan tidak termakan seleksi alam.

Sedangkan bila mereka mentok, mandeg dan belum bisa membuat sesuatu yang baru, tuntutan sosial-masyarakat akan membuatnya merasa berada pada kondisi under-pressure, tertekan berat, malu atas tanggung jawab yang belum bisa dijalankan. Hal itu yang bisa saja menjalar pada potensi untuk bertemu dengan problematika psikologis, gangguan-gangguan kejiwaan (psikopatologis atau psikotik), abnormalitas, konflik internal rumah tangga sampai keluarga. Serta berbagai hal negatif di kala situasi hidup sudah buntu, sumpek dan peteng, yang bisa menjadi alternatif—ketika keimanan sedang lemah— untuk memperbaiki kondisinya, seperti berpindah musyrik dan menyekutukan kekuatan Tuhan  dengan  meminta bantuan kepada  makhluk ghaib dan metafisis, atau yang lainnya.

Seperti yang setiap hari bisa kita lihat pada program televisi Karma yang ditayangkan channel Andalas Televisi (Antv), dengan Robby Pura sebagai Host dan Roy Kiyoshi sebagai Supranaturalis yang membantu problem dari partisipan. Satu demi satu partisipan menceritakan problem kehidupan yang sebagian besar berkaitan dengan kekayaan, kesuksesan, atau materi penunjang hidup. Pada Hierarki of Needs milik Abraham Maslow yang sudah dikenal akrab oleh orang selain basic academy psikologi, masuk pada tingkat kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman yang tidak tercapai, sebagai faktor utama melakukan tindakan buruk. Sehingga bila sudah tidak bisa bangkit dari keterpurukan, banyak yang menggunakan jalan lain yang berbau magis dan metafisik, seperti pesugihan, santet, pelet, atau alternatif lainnya yang membuatnya  berkelimpahan dan bisa bertahan hidup di tengah aras Revolusi Industri 4.0, dimana kemajuan teknologi serba cepat dan instan. Semacam keterhubungan  konsep menjadi  potensi kausalitas  yang begitu jarang  disadari.

Setidaknya, selain kontribusi program solutif Karma berupa mini konseling bergenre supranatural-religius yang ditayangkan channel Antv untuk mengatasi persoalan sosial-masyarakat tersebut. UIN Sunan Ampel Surabaya juga menawarkan solusi atas fenomena demikian melalui tangan indah dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) yang berusaha memenuhi Tri Darma Perguruan Tinggi (3 DPT) dengan memberi pengabdian kepada masyarakat untuk mereduksi serta membantu menemukan solusi atas beragam problematika psikologis manusia kontemporer yang hidup pada generasi Revolusi Industri 4.0. Lahirnya Laboratorium Psikosufistik yang diresmikan berbarengan dengan Dies Natalis FUF UIN Sunan Ampel Surabaya pada Jumat, 29 Juli 2016, telah memiliki blue-print, proto-type, ataupun grand concept jauh hari sebelum tanggal yang disebutkan.

Beberapa akademisi seperti Dr. Suhermanto, M.Hum., selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) Jurusan Akhlak dan Tasawuf, ada pula Maulidah Muflihah, M.Psi., Psikolog, dan Herliyana Isnaeni, M.Psi, Psikolog yang berkapasitas sebagai Penanggung Jawab Laboratorium Psikosufistik sekaligus Dosen di Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya, memiliki peran yang vital dalam berdirinya Laboratorium Psikosufistik tersebut.

Sedikit menjelaskan profil, Herliyana, M.Psi, Psikolog menyebutkan, latar belakang dibuatnya laboratorium tersebut sebagai bagian atau bentuk pengabdian masyarakat dengan memberi layanan konsultasi, konseling dan terapi dalam menangani masalah-masalah psikologis (mental emosi) maupun problem fisik yang diakibatkan oleh adanya tekanan dalam wujud psikologis. Barang tentu, dengan biaya yang sangat terjangkau, bahkan free untuk klien yang mempunyai kondisi benar-benar membutuhkan bantuan. “Kemudian juga digunakan sebagai pusat pembelajaran bagi mahasiswa terutama untuk praktek sufi healing. Selain itu juga sebagai pusat riset tentang psikosufistik atau psikologi tasawuf, psikososial maupun psikologi agama,” tutur Herliyana.

Beberapa metode terapi yang digunakan dalam laboratorium psikosufistik adalah psikoterapi dan sufi healing, adalah kombinasi atau irisan dari dua keilmuan, yaitu metode psikologi dan tasawuf. Segala bentuk psikoterapi dapat digunakan, namun dengan satu tambahan, yakni sentuhan lembut religi, sufi atau tasawuf.

Adapun perbedaan antara psikoterapi dengan sufi healing atau psikosufistik yakni, metode psikoterapi murni menggunakan teori-teori psikologi secara umum. “Sedangkan sufi healingatau psikosufistik menggunakan tambahan nilai-nilai spiritual, melibatkan makro-kosmos atau alam semesta dan keyakinan kepada pemilik semesta, yaitu Allah SWT. Sehingga metode terapi selalu mengajak klien untuk terkoneksi dengan Allah dan semesta,” imbuh Herliyana.

Herliyana juga turut memberikan contoh kasus klien yang punya keluhan sesak nafas menahun, hasil pemeriksaan medis tidak ada masalah pada saluran atau organ pernafasan. Setelah digali, ternyata klien menceritakan peristiwa masa lalu dalam keluarganya yang membuat dia benci pada ayahnya (precipitating event) sehingga tidak memaafkan perlakuan ayahnya tersebut. Perasaan itu dipendam selama beberapa tahun lamanya sehingga seolah nafasnya dirasa sering sesak. Setelah dijelaskan secara psikologis bahwa sesak nafas yang dialaminya karena faktor kebencian, rasa marah dan tidak memaafkan yang dipendam sehingga menghimpit rongga dadanya seolah ada beban berat di dada dan muncul dalam bentuk sesak menarik nafas (karena dada letaknya dekat dengan hati dan yang bermasalah adalah hati emosional yang ada di dalam). “Kemudian saya gunakan psikoterapi dengan forgiveness therapyditambahkan istighfar bersamaan dengan berdoa, hal ini untuk melakukan proses letting-go pada kebencian yang dipendamnya,” pungkas Herliyana.

Di sisi lain, tasawuf adalah ilmunya. Sedangkan orang yang mengamalkan tasawuf disebut sebagai sufi. Intinya mengajarkan bagaimana menjadi orang yang bersih hatinya dari penyakit hati dengan mendekatkan diri pada Allah SWT. Karena manusia adalah homo-religius sehingga permasalahan-permasalahan psikologis atau mental emosi perilaku yang dialami manusia modern yang hidup pada Era Digital dan Revolusi Industri 4.0 saat ini akan sulit diselesaikan ketika terlepas dari nilai-nilai dan aspek-aspek religi maupun spiritual. Dalam tasawuf, banyak maqom-maqom yang merupakan tingkatan atau tahapan yang dapat ditempuh manusia untuk mencapai hati yang bersih. Beberapa teknik sufi healing misalnya terapi taubat, sholat atau doa khusyu, dzikir, sedekah dan lain sebagainya, “Inilah yang kami olah secara komprehensif dengan mengolaborasikannya bersama psikoterapi,” tutur Herliyana.

Pemberian nama Laboratorium Psikosufistik lantaran FUF memiliki Jurusan Akhlak dan Tasawuf dengan mata kuliah sufi healinglogoterapi, dan pendekatan sufi lainnya. Sehingga Laboratorium Psikosufistik merupakan representasi dan ilmu terapannya. Perlu diketahui bahwa ada tiga ruang yang tersedia di laboratorium, ruang pertama adalah penerimaan, di mana dilakukan anamnesamaking an appointment, atau sekadar konsultasi awal. Kemudian ada ruang relaksasi yang dilengkapi audio-visual dan massage chair untuk relaksasi klien. Kemudian ada satu ruang lagi yang digunakan sebagai ruang konseling, family therapy, role play maupun Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk kurang lebih empat orang, “Ruang ini biasa saya pakai untuk marrital counseling, di mana ada role play antara suami-istri misalnya tentang komunikasi asertif dan sebagainya,” imbuhan Dosen  Fakultas Psikologi  dan Kesehatan (FPK) tersebut.

Selain itu, Herliyana juga menyematkan harapan kepada Laboratorium Psikosufistik, yaitu semakin banyak dikenal dan memberikan manfaat pada masyarakat sebagai bentuk pengabdian. Serta dari laboratorium tersebut diharapkan semakin mengembangkan terapi-terapi lainnya yang holistik untuk menjawab dan mengatasi permasalahan-permasalahan psikologis manusia, “Serta bagi para mahasiswa kami, harapannya adalah melahirkan manusia-manusia yang memiliki akhlakul karimah sebagai cerminan akhlak tasawuf dalam melaksanakan tugas kekhalifahan di dunia sebagai bekal akhirat kelak,” penuturan harapan yang sekaligus menutup pemaparan dari Herliyana.

Di samping itu, Dr. Suhermanto, M.Hum. juga menjelaskan hal senada dengan Herliyana, “Pasien juga sering berdatangan ke mari, bisa pasien dari kampus, kadang ada pasien dari luar, misalnya beberapa pasien dari Bu Lea (nama akrab Herliyana, red) dan Bu Lia (Maulidah Muflihah, M.Psi, Psikolog, red) karena sempat membaca berita yang pernah diunggah di official website UIN Sunan Ampel Surabaya beberapa bulan sebelumnya,” pungkas dari Dr. Suhermanto menutup perbincangan.

Setidaknya untuk menutup tulisan semi-panjang pada Kolom Mahasiswa ini, saya ingin mengutip closing statement yang disebutkan Taufiqurrahman, Wartawan Jawa Pos, dalam Kelas Jurnalistik 4.0, untuk dipertimbangkan dan ditawarkan kepada seluruh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Terlebih masyarakat non-akademis pada umumnya yang pekerjaannya dimatikan gelombang kemajuan tekonologi Revolusi Industri 4.0, “Mari kita terus belajar, kuasai satu bidang hingga kamu menjadi ahli dalam bidang tersebut,” pungkasnya di akhir Kelas Jurnalistik 4.0, yang ditutup pukul 15.00 WIB tepat ketika Adzan Ashar sedang berderu dan terdengar hingga dalam ruang diskusi kami. Dengan terus belajar hingga menguasai satu bidang keahlian, dapat kita jadikan bekal untuk bertahan hidup dan menghadapi setiap kemajuan zaman yang berbasis teknologi digital, terus bergerak  dan belajar, buat inovasi dan karya,  jadikan diri kita berguna untuk lingkungan. (Rangga Prasetya Aji Widodo – Sumber)

*Penulis adalah Mahasiswa Semester 6, Jurusan Psikologi, Program Studi Psikologi Sosial, Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK), UIN Sunan Ampel Surabaya

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *