Selebrasi Kebangsaan (Oleh: Luhur Pambudi)

Bagikan

Pernah, sebuah pepatah atau dalil yang dibukukan bunyinya; runtuhnya sebuah peradaban bukan karena perang ataupun pertumpahan darah. Namun, karena mereka kehilangan nilai yang dianutnya. Sekiranya pepatah dari Syaikh Abdul Jalil a.k.a Siti Jenar ini mewakili sepintas keadaan bumi pertiwi yang nyaris diberangus oleh letak teritorinya sendiri yang dikepung oleh lempengan cincin api. Genap seminggu kita merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sekarang konsentrasi kita dipecah kembali oleh 20 Mei nanti Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang tak segan, kembali menyuguhkan memori-memori lama dalam kumparan roll film yang nampak usang dan berdebu dari koleksi museum nasional. Akan banyak perhelatan-perhelatan akbar bagi negeri kita ini, sekaligus mengenang sosok yang kini menjadi tokoh yang patut kita semak secara teliti track record-nya dalam memberikan sumbangsih besar, yaitu asupan nutrisi yang tak kenal istilah publikasi atau sedimentasi honor. Hardiknas, tak akan luput ingatan kita oleh Ki Hajar Dewantara, bergerilya dengan pemikiran-pemikiran yang nyaris kandas ditelan mekanisme imperialisme zaman kolonial. Sekarung berambang bawang bisa menjadi modal untuk memberi pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, ini masih Ki Hajar Dewantara eksponen tenaga pendidik yang tak kenal gentar meskipun zaman masih berpotensi menelikung lutut dan pemikirannya di tengah jalan, Taman Siswa, tetap dijadwalkan lahir dengan tangan yang gopoh menandakan semangatnya yang tak pernah tahu apa itu istilah padam.

Harkitnas belum lagi juga memaksa kita kembali membuka file-file dan portofolio usang yang tak pernah dibukukan secara permanen, pergolakan kebebasan sudah dirancang jauh sebelum niat atau keinginan kemerdekaan muncul menggebu bersamaan rasa sakit yang telah meradang berabad-abad. Boedi Oetomo, semacam hewan penghisap darah, kecil, dekil, nan berisik. Selepas menghisap, entah? Bentol atau demam kan mendera. Segerombolan pemuda, sebagai boomerang yang menakutkan, bertugas untuk menerjang bagai berang, selepasnya dilempar ke udara, bakal kembali saat tiba waktunya, hingga 43 tahun penantiannya, boomerang akhirnya nampak kecil dari awan biru yang berspektrum warna kehijauan, menandakan boomerang telah datang dari petualangannya mengitari poros orbitnya, diterjang badai, hujan, panas terik, petir pun sungkan menjilati ujung dari kedua buah mata boomerang, yang kini sudah terasah tajam. Menghunus kemapanan dari negeri seberang, alangkah dasyhatnya boomerang-boomerang itu.

Sayangnya boomerang kini tinggal seonggok simbolisasi zaman, berbicara dan bercerita tentang boomerang yang pernah melintas di kening mereka. Itu semua kata cerita orang-orang lanjut usia pengenyam zaman kolonial. Kini telah beralih, cerita boomerang, cerita tentang cikal bakal perubahan, cerita tentang pembaharuan, ternyata hanya sampai dibuku-buku pelajaran siswa-siswa sekolahan. Menelan mentah-mentah pembukuan yang hanya sekedar diikhtisiarkan dengan singkat cerita, lalu dieksekusi dengan sejumlah daftar pertanyaan, siswa-siswi kita dituntut untuk hafal dan hanya sekedar hafal untuk menjawab pertanyaan dari daftar pertanyaan. Sekedar menjawab pertanyaan? Yang benar saja. Lalu buat apa peradapan kita, diciptakan dengan tangan yang berlumuran balsam dan berlapis perban, bukannya sekedar percuma, tapi untuk apa peradapan kita ini yang telah diperjuangkan dengan semangat kedaerahan hingga semangat persatuan, peradapan kita ini, dengan mitos-mitos ini, bukan untuk supaya diingat tanpa digali ataupun diamini lagi. Bermaksud untuk mengenangnya bak perayaan ulang tahun pada umumnya, justru esensinya itu sebuah kebalikannya. Kita merayakan sekedar upacara, khotbah dengan siapa pembicara yang dianggap terhormat; RW, Lurah ataupun Bupati. Setelah itu upacara selesai, barisan dibubarkan serentak meninggalkan lapangan dan pulang kekehidupan masing-masing. Tanpa pesan, tanpa bekas, lantas lupa. Lupa akan tujuan sebenarnya Harkitnas ataupun Hardiknas, bukan untuk itu sebuah hari yang dimukjizatkan Tuhan dirayakan tahunan. Tapi sebagai pergolakan kembali, tempat mengisi bahan bakar agar bisa berjalan lagi, tempat peristirahatan agar bisa segar kembali, dan tempat perbaikan agar bisa menjadi yang lebih baik lagi.

Saya kira ini yang harus digaris bawahi di setiap khotbah-khotbah Jumat, biar mesti diingat seminggu sekali, bukannya setahun sekali. Biar peradapan yang susah-payah disemen dan diperkokoh ini, tak gampang terkikis oleh rembesan air hujan perkembangan zaman yang sewaktu-waktu bisa mengikis dengan gemulainya. Kita harus memperbanyak menilai kembali atau tinjauan ulang yang lebih dalam kembali bukannya perayaan, peradaban tak butuh perayaan hanya butuh pengulangan dalam bentuk lain. Itu saja. (Luhur Pambudi)

Penulis adalah Demisioner Pimpinan Redaksi LPM Alam Tara periode 2016

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *