Perayaan Dies Natalies, FPK Adakan Lomba Esai Tingkat Nasional Pertama

Bagikan

Rabu (28/11) kemarin telah berlangsung hari final lomba esai bertemakan “Optimalisasi Peran
Pemuda Muslim dalam Pembangunan Inklusif Menuju SDG 2030” di Ruang Sidang Rektorat
Lama. Lomba yang merupakan serangkaian acara Dies Natalis Fakultas Psikologi dan
Kesehatan (FPK) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bertajuk Preception 4.0 ini untuk
pertama kalinya diadakan secara nasional.

Jika pada tahun sebelumnya lomba esai hanya diikuti oleh mahasiswa FPK sendiri, maka kali ini peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, lomba esai ini tidak hanyadikhususkan untuk kalangan mahasiswa saja, namun juga terbuka untuk kalangan siswa SMA. Panitia sangat antusias dan menikmati acara ini, “Yaa.. dari pesertanya itu pengennya dimanja misalnya minta dijemput, minta diingatkan terus kegiatan jadwalnya seperti apa gitu,” ujar Ily selaku panitia. Homestay menjadi salah satu alternatif pilihan untuk tempat para peserta beristirahat, khususnya bagi peserta yang dari luar kota. Segala keperluan peserta sudah dipersiapkan oleh panitia selama mengikuti kegiatan. Penjurian langsung dinilai oleh Qurrota A’yuni Fitriana, selaku dosen psikologi, lalu Fidia Astuti, dahulu merupakan salah satu mahasiswa psikologi di UIN Sunan Ampel Surabaya dan sekarang menjadi salah satu dosen juga, serta Nila Audini Oktavia, mahasiswa lulusan terbaik bidang akademik dan non-akademik UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2018 yang pernah menjuarai LKTIN FILM (Festival Ilmiah Mahasiswa) SEMAR PAPER COMPETITION di Universitas Neegeri Sebelas Maret pada tahun sebelumnya. Peserta merupakan perwakilan dari lima SMA yang lolos dan masuk tahap final lomba esai tingkat nasional. Mereka berasal dari SMAN 12 Luwu Sulawesi Selatan, SMAN 1 Badegan Kabupaten Ponorogo, SMA Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 3 Demak, MA Matholi’ul Anwar Lamongan. Sedangkan dari kategori mahasiswa, terdapat perwakilan dari lima perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia, Universitas Malang, Universitas Udayana, Universitas PGRI Adi Buana, dan Uiversitas Airlangga. Beberapa peserta mengakui bahwa perjalanan mereka menuju Surabaya menggunakan dana pribadinya. Memang semuanya membutuhkan pengorbanan khususnya pengorbanan dana dan juga waktu mereka dan harus diseimbangkan dengan pelayanan yang sepadan dari panitia.

“Ketika kita sudah sampai di bandara panitia elok-elok langsung menyambut, beda dengan lomba yang saya ikuti sebelumnya,” ujar salah satu peserta dari SMAN 1 Luwu Sulawesi Selatan, yang mana harapan mereka ingin menambah persiapan untuk SNMPTN dan juga menginginkan agar sekolahnya lebih terkenal. Di samping itu, mereka juga berharap dapat memenangkan lomba tersebut, serta menambah pengalaman mereka.

Di lain pihak Khoirul dari Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa, “Mungkin dari juaranya bisa lebih diperbanyak kak yah, misalnya ada best presentasi atau best speaker atau apapun itu biar gak hanya juara 1 dan 2 serta juara harapan 1 dan 2 saja hehe..” Ketika sesi presentasi berlangsung, dari 10 finalis terlihat sangat mempersiapkan berbagai kebutuhan dengan baik contohnya dari Universitas PGRI Adi Buana, mereka menyanyikan lagu sebelum memulai presentasi dan juga memasangkan banner. Dalam proses pemilihan pemenang terdapat beberapa aspek penilaian, salah satunya dari sistematika penulisan, yakni bagaimana cara mereka menjelaskan secara runtut masalah solusi sampai implementasi kedepannya seperti apa.

Paling terpenting adalah orisinalitasnya, panitia juga memberikan lembaran keaslian supaya peserta benar-benar mengakui bahwa itu adalah karya hasil mereka bukan hasil dari plagiat. Presentasi, serta kemampuan menjawab pertanyaan juga menjadi penilaian. “Dari 10 peserta ‘kan masing-masing (terdiri) lima SMA dan lima perguruan tinggi (PT). Nah, yang dari lima SMA ini, memang rata-rata ide-idenya baru, tetapi ada beberapa dalampenulisan, kalau saya menegaskan dalam daftar pustaka, sumber-sumber, misalkan di badanesainya ada, tapi ternyata di daftar pustaka ‘ngga ada. ‘Kan kayak gitu jadi salah satu aspek penilaian,”ujar Qurrota A’yuni, salah satu juri dari final lomba esai tersebut. Memang sayang sekali, tidak ada satu pun finalis yang lolos dari mahasiswa psikologi UINSA. Namun, Dosen yang biasa disapa ‘Bu Ayyun’ oleh mahasiswanya melanjutkan, hal tersebut menunjukkan bahwa lomba esai yang baru pertama kali diadakan secara nasional ini memiliki penilaian yang sangat objektif. Menariknya pada hari terakhir sebelum mengumumkannama pemenang, para peserta dijadwalkan untuk jalan-jalan keliling Surabaya. (fxd/sfk)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *